Ya ALLAH Maha Pengasih. Hamba percaya akan janjiMU, bahwa ENGKAU tidak akan memberi ujian diluar kemampuan hambaMU. Hanya padaMU hamba bisa percaya.
at Office. August 4th, 2010.
Salah seorang rekan kerja menanyakan “nadia, ini yg ttd siapa?” Aku tertegun sesaat melihat Surat Penugasan yg kutau itu adalah ulahku. “si xxx, tapi aku yang suruh. Knp mba?” tanyaku. “bu xxx ga mau ttd semua berkasnya” jawabnya ringan. “Tapi, waktu itu bu xxx ga ada di tempat, besoknya kita harus jalan.” Jelasku. “Ya udah, jelasin aja ke bendahara”. Aku terdiam & mulai merasakan hawa2 tidak enak. This is serious.
“pak, betul saya yang memalsukan ini, krn waktu itu bu xxx tidak ada di tempat, & kami harus segera berangkat.” Jelasku pada bendahara selaku orang pertama yang memberitahu permasalahan ini. “ya udah, kamu jelasin saja ke bu xxx, begini begini begini”. “Bapak mau yang jelasin?”. Tanyaku setengah lancang. “begini nadia, kalo pemalsuan ttd memang berat” jelasnya dengan suara memelan. “berarti di kantor ini banyak pelanggaran berat donk pak?” tanyaku sok polos, berharap dia paham kalau masalah ini tidak seberapa dengan kegilaan di kantor ini! “banyak!” jawabnya yakin, tegas, dan percaya diri . “Jadi bapak besok mau ga bantuin saya ngomong ke bu xxx?” tanyaku berharap bantuannya. “iya, boleh.”
at Office, 5th August 2010.
“Ibu, saya minta maaf. Benar saya yang memalsukan. Tapi karna waktu itu ibu tidak ada di tempat”. Ujarku mengawali pembicaraan. “Noviii, tolong liat, tanggal 15 Feb ibu kemana”. Perintahnya pada salah satu staf kontrak. Tanpa menggubris pernyataanku. “Ibu tanggal 15 ke Jakarta, rapat”. (Alhamdulillah.. sejauh ini omongan saya terbukti benar). “Uciiii, liatin surat ini datengnya kapan?” Perintahnya lagi pada lagi2 staf kontrak. Di bagian ibu ini memang mengkoleksi staf kontrak. Haaah.. Anggaran mana yang dia ambil untuk memberi honor 11 orang tiap bulannya?! (11 persons equal 11million per month, or more!). Sebelum mba Uci berhasil menemukan suratnya, dia sudah bicara macam2 “mba, dulu memang banyak yang memalsukan ttd saya, karna pada saat itu kabid2 belum tau administrasi, jadi saya maklumi. Tapi, maklum maklum maklum.. akhirnya jadi begini” Ujarnya. “iya bu, saya minta maaf, saya mengaku salah, tapi ini hanya untuk surat jalan, tidak bermaksud menggelapkan apa2″. Jawabku. “Ini bukan cuma soal penggelapan mba, ini bisa dipidana loh. Kalo saya ga ikhlas, mba bisa saya tuntut!” (dank!).
Percakapan saya terlalu panjang, dan ga juntrung. Orangnya memang begitu. Tak kenal fokus. Saya jadi dijelaskan macam2 soal jalur disposisi persuratan, cerita bahwa si ini tidak suka pada si itu, bahkan saya dimintanya untuk declare bahwa saya akan menjadi PNS yang baik. Hmph….She was over reacting. Padahal saya tau banyak kartu matinya dia, entah kenapa mulut ini tidak bunyi! Rasa bersalah saya terlalu besar kemarin.
“Jadi mba, berkas ini, tidak akan saya tandatangani, dan saya serahkan pada BPKP. Itu instruksi bapak” ASTARGFIRULLAH… mendengar kesimpulan setelah setengah jam serasa jadi pesakitan, rasanya pasti ga sedahsyat Teh Ninih dipoligami Aa Gym. Mungkin seperseribunya ada.
Saya cuma diam, memandangnya dan mulai tersayat2 di dalam. “Tapi saya ga akan bilang, ini mba Nadia yang buat. Ini buat pelajaran bidang2. Ya mba?” Hanya sedetik merasa tenang, setelah itu sayatan itu mulai bernanah.
Saya keluar ruangan dengan perasaan tak karuan. Mulut saya tak mampu berkomunikasi. Akhirnya, perasaan terluka yang mulai bicara. Bicara dengan bahasa air mata. Saya kecewa. Saya benar2 dizalimi petinggi2 disini.
Kalau ini semua ada lah permainan catur, maka saya hanyalah pion yang berdiri paling depan,bersama pasukan terbanyak, maju duluan, dan harus rela mati demi sang Raja.
Kalau ini semua adalah permainan petak umpet, maka saya hanyalah anak bawang. Disaat senang, saya invisible. Di saat susah, saya visible.
Kalau ini semua adalah jawaban dari doa saya beberapa hari yang lalu, maka doa saya jelas sudah dikabulkanNYA. Beginilah doa saya “Ya ALLAH, ijinkan hamba merubah diri hamba sendiri, agar hamba bisa merubah kantor menjadi lebih baik lagi. Amin.” Tak sampai 2 hari lebih, kejadian ini menimpa saya. Dalam hati, saya melihat secercah harapan, bahwa dengan kejadian ini, segala tipu menipu administrasi dan palsu memalsu ttd, (semoga) akan berkurang. Paling tidak di bidang kerja saya sendiri. Saya berharap mereka belajar, bahwa aturan main harus dijalankan dengan tanggung jawab. Bukan karena niat “asal tidak ketahuan” maka mereka dapat berbuat hal itu TERUS-TERUSAN. Tidak. Tidak boleh! Titik!
***
Terima kasih ALLAH atas jawaban dari doa hamba. Terimakasih ALLAH telah menjadikan hamba setitik cahaya kebenaran bagi kami. Terimakasih ALLAH..