terima kasih

Terima kasih sudah menyediakan tempat bernaung untukku.

Terima kasih sudah memberikan contoh untuk berbuat kebaikan.

Terima kasih sudah melakukan pengorbanan untuk orang lain, selalu.

Terima kasih sudah menerbitkan senyum mulai dari bangun pagi sampai tidur kembali.

Terima kasih sudah menerobos lautan manusia setiap hari untuk kebaikan di masa depan.

Terima kasih sudah selalu jujur dalam membangun pribadiku.

Terima kasih sudah menjadikan ibadahku utuh.
Terima kasih sudah menambah ladang pahala untukku.

Maafkan aku banyak menuntut.

Maafkan aku banyak cemberut.

Maafkan aku yang tak mengerti kebutuhanmu.

Maafkan aku yang terlalu dalam mencintaimu.

Maafkan aku yang sulit untuk sembuh.

Tidak ada yang menjadi kepunyaanku, begitupun dengan kepunyaanmu. Semua hanya titipan. Semoga aku dan kamu termasuk orang-orang yang bersyukur dengan menjaga apa-apa yang dititipkanNya sampai hari ini.

hug

I want to hug so many people in my life.

Who are fighting from illness

Who are accompanying their loved ones fighting from illness

Who are losing their loved ones forever

Who are confused with life and lost their minds

Who are knocked off many many times

Who are searching the answer of their questions

Who are confused between the “rights” and “wrongs”

Who don’t get enough love when they’re young

Who don’t know the differences between love and unloved

I want to hug you and say “everything is gonna be alright according to Allah’s plan. I hope you find peace and forever be blessed.”

A stage

There is a stage in our life when some people lose their faith and lost because of their temporary desires.

There is a stage in our life when evils are transformed into human beings and exist around us.

There is a stage in our life when some women are losing their mind just to please their desires.. their illusions.

There is a stage in our life when we can see who is really kind and nice from the bottom of their heart or just pretending to be kind.

There is a stage in our life when nothing makes perfect sense, but we keep pushing our mind to trust that Allah know best.

There is a stage in our life where we can only standing strong and steady after we pour tears over and over again.

There is a stage in our life.. so high that we can see everything so clear and far but we need to pass all the trials after trials.

There is a stage in our life when we need to climb to get there with everything we have: love, respect, honesty, trust, life.

There is a stage in our life when we need to choose only what makes Allah happy although we don’t really want to choose it, but we trust Allah so we will choose it anyway.

There is a stage in our life when our blessed life depends only on us.

 

Hari pengorbanan

Akhirnya semua benteng pertahanan diruntuhkan dengan adanya Hari Pengorbanan. Hari yang tidak pernah kumengerti maknanya secara pribadi apalagi mendalam. Hari yang selama hidupku hanya kurayakan, kuperingati, dan kujalani seperti hari libur biasa. 

Aku diajarkanNya apa itu pengorbanan di Hari Pengorbanan. 

Pengorbanan adalah mempercayakan semua ketentuanNya hanya kepadaNya tanpa bertanya kenapa, tanpa mengeluh, tanpa marah, tanpa merasa paling benar. Pengorbanan justru melihat lebih ke dalam diri. Jujur mengakui semua kesalahan dan memohon ampunan walaupun tidak merasa salah, walaupun merasa selalu berjuang demi kebenaran, walaupun merasa tidak rela untuk mengakui kenyataan.

Pengorbanan adalah merelakan apa yang menjadi keinginan pribadi diganti dengan apa yang menjadi keinginanNya, sehebat apapun keinginan mulia kita.

Pengorbanan adalah mengikhlaskan diri untuk taat.

Pengorbanan adalah bukti rasa cinta kepadaNya, ajaranNya, dan kesungguhan hati untuk mengamalkanNya.

Let all my sacrifation goes to Allah, God of the Universe. Semoga Engkau ridho.

Mohon maaf

Beberapa hari belakangan ini, saya menjadi pemurung, jarang tertawa, dan tidak bersemangat. Alasannya tidak bisa saya ceritakan disini, dan dimana-mana juga. Mungkin kesedihan saya mudah terbaca dari tulisan-tulisan saya disini. Maka dari itu, saya meminta maaf atas tulisan saya yang saya tulis dan mengandung energi negatif. Ini salah satu cara saya untuk mencari hikmah dari semua kejadian yang tidak menyenangkan dan menjadikannya sangat bermakna. Menulis kegalauan hati adalah cara yang saya tahu, terapkan, dan terbukti membantu mendewasakan saya, semenjak saya kecil.

Saya sudah menulis di buku harian sejak SD. Dulu jamannya adalah mengumpulkan biodata dan kata-kata mutiara dari teman-teman sekolah. Lalu kehidupan berlanjut, saya memiliki buku harian rahasia yang isinya tentang kehidupan di sekolah, cowo yang saya taksir, surat cinta yang saya terima, rasa tidak suka kepada teman. Isi lainnya tentang keluarga, kejadian saya dimarahi Bapak, curhatan saya ke kakak, jalan-jalan sekeluarga. Buku harian saya terus berlanjut terus sampai SMP, SMA, kuliah, dan sekarang dalam bentuk blog. Isinya tentang luapan emosi yang saya rasakan, baik senang atau sedih. Dan beruntung sekali saya meluapkan emosi negatif hanya sampai tulisan. Semua menjadi lebih terkendali di dunia nyata.

Kembali ke hari-hari belakangan.

Bahwa memang semua kejadian sudah melalui ijin-Nya dan bahwa semua kejadian bertujuan baik. Tapi, mungkin, yang membuat menjadi berat adalah rasa tidak menyangka, kecewa akan kejadian yang berulang, dan ketidaktahuan untuk berbuat apa setelahnya. Ketika rasa sedih dan kecewa masih mendominasi, usaha keluar dari lingkaran ini tidak membuahkan hasil, ditambah rasa takut mencoba hal yang sama. Oh, ini ternyata yang namanya trauma.

Selamat datang, terima kasih sudah hadir dan memberi rasa baru :)

Ada dua hal yang saya pegang sampai hari ini:

Whatever life gives you, don’t turn out to be bitter.

Forgiveness is what I can always give to all of you.

Seberapapun sakit hati dan beratnya keadaan, jadilah pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Percayalah, hanya dari kejadian buruk kita bisa intropeksi secara tulus dan mendalam, dan berubah. Serta, maafkanlah orang lain selalu, siapapun dia dan apapun yang dilakukannya. Memaafkan membebaskan hati dari rasa marah, sedih, dan kecewa. Memaafkan mendamaikan hati.

Masih banyak hal yang perlu dipelajari dan diterapkan. Selama masa pembelajaran ini terus berlangsung, ijinkan saya menuliskan apapun yang menjadi rasa baru dalam hidup dan mencari hikmah lebih dalam sehingga perubahan menjadi lebih pemanen. Jika tidak berkenan membaca hal-hal yang bersifat “struggling”, silahkan unfollow. Dengan senang hati. :)

Btw, saya memiliki blog satu lagi yang sangat berbeda nuansanya dengan blog ini. Blog itu hanya bisa saya tulis ketika perasaan saya baik. Silahkan lihat disini. Saya memiliki misi besar dengan blog itu, semoga Allah ridho. :)