cerita

Saya ini aslinya produk bapak saya banget. Hampir semua value, kebiasaan, norma, batasan yg saya anut sekarang adalah kepunyaan bapak yang saya setujui dan saya adopsi untuk jadi prinsip dasar hidup saya. Bukan berarti ibu saya tidak mengajarkan hal2 baik. Bukan sama sekali. Beda pelajaran. Cuma saya merasa lebih mirip bapak, itu aja. Dan kakak saya mirip ibu.

Akhir2 ini saya sering menulis tentang batasan. Yg mungkin seolah2 terlihat saya ini orangnya tidak fleksibel, kaku, serius, dan ga out of the box, gitu? Tentu semua orang punya kelonggarannya sendiri2. Saya termasuk yg strict untuk menyelamatkan hidup saya. Kalo bukan saya, siapa lagi? ;( Heu. Jadi tau kan motif dibalik aturan main saya? ;((

Semakin tua, semakin sadar, dan semakin mengkristal aturan main tersebut, akhir2 ini saya jadi orang yg sangat menahan untuk mengeluh, berekspresi negatif, atau marah2. Memang ga sehat bagi kesehatan jiwa. Tapi, saya teh cuma mikir… Kalo mau dikeluarin harus di tempat yg benar, dengan cara yg benar, dan kepada orang yg tepat. Selain ke Tuhan, seringnya, saya mengadu hanya kepada 1/ 2 orang. Yg saya yakin bisa melindungi hati saya yg lagi saya liatin dengan gaya “nih, liat hati gw lagi sakit..” tanpa tertawa atau menghakimi, yg juga bisa meluruskan pikiran saya yg sukanya muter2 sendiri.

Dan di saat begitu saya merasa mirip ibu saya. Tidak mau cerita masalah ke siapa2. Ke ALLAH aja. Ibu saya amat jarang curhat. Seringnya kena curhatan, sampe masalah orang jadi pikiran dia. Rasanya pengen CAKARIN ORANG2 itu. Tapi sekalinya ibu saya curhat, nangis. Nangis banget. Duh, sedih banget liatnya. Dia cuma cerita sama ALLAH aja. “ALLAH cukup” katanya. Sampai suatu hari di tahun 2012 kemarin, ibu saya sakit. Ga jelas asalnya, karena she eats healthy food, doesn’t smoke, and treats her body well. Cuma kata pak Ustad yg waktu itu nolongin ibu saya, katanya ibu saya ini terlalu banyak menyimpan pikiran. Kurang positif, dan tidak dibagi. Something like that. Semenjak itu, ibu saya memang berubah. Dy ga lagi mikir yg berat2. The feeling of surrender to GOD is what she believes now. Ini kenapa jd cerita ibu saya -_-*

Sudah sejak setahun terakhir kemarin saya benar2 mensortir orang2 yg bisa saya tumpahin uneg2. Kalau ga ada, sumpah saya diem aja. Engga sih. Nangis, berdoa, sama nulis2. Iya, saya lebih mempercayakan masalah saya sama ALLAH dan diri saya sendiri, ketimbang orang yg ga tepat. Dan jadi kebiasaan baru, kalau saya diam, itu saya sedang kenapa2, dan menenangkan diri. Menata hati dan pikiran tepatnya. Jangan sampe orang merasakan aura negatif dari saya. Kasian. They don’t deserve it.

Kemarin saya sempat sakit yg lumayan, karena banyak pikiran. Waallahuallam itu pikiran bener atau ga. Saya cuma takut sakit lagi aja, Ya mungkin harus dikeluarin dengan cara, di tempat, dan kepada siapa yg tepat.

Ya mungkin itu.

Pikiran saya lagi berat gara2 thesis. That’s the reason behind this story. Hehehee. Doakan yah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s