Pertanyaan berkedok peduli

Kali ini saya mau buang sampah uneg2. Ini bukan tulisan yg biasa saya buat. It’s a pure garbage. :) feel free to skip. :)

Kapan married fenomena.
Sudah menjadi tabiat orang2 Indonesia pada umumnya untuk bertanya soal yg satu ini dengan motif ingin tahu saja. Tapi ga semua bermotif ingin tahu, ada yg bermotif memposisikan diri terhadap lawan bicara, orang2 di Manado contohnya. Mereka bertanya status lawan bicaranya yg baru mereka kenal dengan maksud memposisikan diri dan bertindak sesuai dengan status lawan bicaranya tsb. Tapi, kebanyakan yg saya kenal tidak pernah bermaksud seperti itu :) bahkan mungkin mereka ga berpikir apa2 ketika menanyakan itu :) atau mereka ga punya bahan pembicaraan maka itulah pertanyaan “iseng2 berhadiah”. Apa hadiahnya buat kita? Ledekan bisa, sindiran bisa, doa juga bisa :)

Ketika ada saudara atau kerabat yg nyeletuk:
“Kapan nikah? Nanti disusul si x loh. Dia sudah mau nikah.” (Si x umurnya lebih muda dr saya).

“Kapan mbak nikah? Ga pengen punya?” Sambil ngelirik dan senyum2 ke bayinya yg baru lahir.

“Jadi kapan nahdya?” “Kapan apanya om?” “Ga usah dijelasin kapan apa.. Udah tau sendiri kan?”

“Kapan nahdya? Kurang apalagi sih? Sekolah udah, kerja udah.”

“Kapan mba Nahdya.. Jangan lama2.”

Dan segala bla bla bla yg lain. :)

Saya biasanya senyum, minta didoakan. Kadang saya balikin bercanda sekenanya saja.

Tapi pernah saya jengkel dengan pertanyaan itu saya jawab dgn nyolotnya “kalo ga pernah doain saya ga usah tanya2 deh!”

Bagi saya, menikah bukanlah kompetisi siapa tercepat, lantas saya bingung kenapa harus dibandingkan dengan orang sudah ketemu jodohnya walaupun dia lebih muda? Memangnya jodoh itu siapa yg atur?

Saya juga jadi sangat gerah dengan pertanyaan itu krn saya menghabiskan waktu untuk bekerja dan kuliah. Kuliahnya pun bukan di Indonesia. Kadang ingin saya tanya balik “kapan kamu berangkat ke eropa?” Atau “kapan kamu sekolah lagi?”.

Sayangnya, urusan cinta orang lain adalah gosip paling sip dibanding topik yg lain.

Sekarang, ketika saya sudah menginjak masa persiapan pernikahan, beberapa orang yg bertanya pun ga cukup peduli untuk hadir dengan segala alasannya. Disini baru kelihatan motif mereka bertanya is for nothing.. Nothing.

Kalau mereka peduli pun mereka bisa menghubungi dengan cara apapun. But they dont. If he / she wants, he / she will. :)

Lagipula, peduli itu memang sulit. *there, I give u excuse* :)

So, dont bother some people yg bertanya hal2 semacam di atas dengan kedok peduli. :)

Advertisements

2 thoughts on “Pertanyaan berkedok peduli

  1. cetut April 13, 2014 / 5:15 pm

    *sodorin-lakban* :D

    • nahdya April 13, 2014 / 9:13 pm

      Emociiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s