A smart shopper

Selama saya mengurus persiapan pernikahan, saya belajar tentang makna dari service dalam sebuah dunia usaha. Di dunia usaha ada dua jenis bidang yang umumnya ditawarkan: produk & jasa. Tidak semua bidang usaha menghasilkan produk, tapi semua jenis usaha pasti butuh jasa. Entah jasa mengirim email tepat waktu, membalas sms & menjawab telepon, berbicara dengan nada yang sopan, memahami kemauan konsumen, memberi penjelasan yang jelas dan fair kepada konsumen, tersenyum, dll, semua itu adalah bagian dari jasa minimal yang dimiliki semua bidang usaha.

Sayangnya, jasa itu tidak bisa dinilai dengan uang. Dan apa-apa yang tidak ternilai itu biasanya mahal.

Dua jenis usaha percetakan undangan dengan hasil undangan yang sama, bisa jadi beda harga. Kenapa? Kebanyakan yang lebih mahal bisa memberi service yang lebih memuaskan dan membahagiakan konsumen. Sama-sama menghasilkan undangan, tapi jika yang satu bikin capek hati, sedangkan yang lain bikin tenang, mana yang sebaiknya dipilih? Karena ujung-ujungnya biasanya soal budget.

Jadi, kalau budget tidak mencukupi untuk membayar jasa yang menetramkan hati, siap-siap membayar ongkos capek hati atau ketidakpuasan dimana hal itu adalah hal yang wajar.

Saya mengalami sendiri tidak menemukan faktor jasa untuk beberapa hal selama mengurus undangan, dan berkomunikasi dengan pihak catering.

Belum lagi pengalaman ditawari kartu kredit & asuransi baik secara langsung maupun lewat telepon. Sudah dijawab sesopan mungkin dengan maksud menghargai sesama orang bekerja, malah dibalas dengan nada yang tinggi. ini gimana maksudnya?.

Kebanyakan konsumen di Indonesia tidak diedukasi oleh para marketer perusahaan komersil. Sistem target membuat para marketernya tidak memiliki jiwa edukasi, tapi jiwa mencari

mangsa

. Banyak promosi dan senyum ketika sedang menawarkan sesuatu, tapi ternyata ujung-ujungnya tidak seperti yang dijanjikan di awal atau senyum manis itu perlahan hilang. Padahal mungkin produk mereka bagus-bagus. Hanya saja cara menjelaskannya tidak berimbang antara “apa yang bisa didapat” dengan “apa yang tidak bisa didapat”.

Barusan saya ditawari kartu kredit yang bisa memberi diskon di sebuah supermarket terbesar di Indonesia, lalu ketika saya minta brosurnya dulu malah tidak boleh karena brosur jadi satu dengan aplikasi loh gimana toh?.

Menjadi smart shopper di Indonesia adalah suatu keharusan. Di era dimana orang berlomba-lomba eksis dengan food, fun, fashion bisa membuat lupa apa yang esensial dalam hal membelanjakan uang.

Membaca review, bertanya kepada teman dan marketer itu sendiri, membandingkan harga, dan mempelajari “apa yang bisa didapat” dengan “apa yang tidak bisa didapat” adalah beberapa cara untuk mematangkan keputusan ketika akan membeli produk atau menggunakan jasa suatu perusahaan.

As many online shops write on the IG: be a smart shopper, please! :)))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s