Ganjelan

Sudah sejak setahun terakhir ini saya jadi lebih perhatian sama situasi, kondisi, sikap, dan kebiasaan orang-orang di sekitar saya, terutama keluarga. Saya mulai belajar mengenal karakter asli mereka dan bagaimana cara mempengaruhi karakternya pada saat-saat dibutuhkan. Kenapa sih saya baru mulai perhatian seperti itu SEKARANG? Karena kurang lebih setahun ini saya banyak mengalami kejadian-kejadian yang berefek ke keluarga saya secara langsung. Selain itu, saya juga banyak baca mengenai psikologis manusia dalam rangka mengenal diri sendiri (dan orang lain juga ding).

Oke, jadi mau bahas APA?

Mau bahas sesuatu yang biasanya terjadi dalam hubungan keluarga dan berpotensi membuat jarak semakin besar: GANJELAN.

Sebagai “tong sampah” di keluarga sendiri, saya jadi tahu ganjelan hati masing-masing anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain. One word: Ribet! Ganjelan di hati emang bikin ribet pikiran dan suasana hati. Gimana engga? Biasanya kalau ada ganjelan, tingkat sensitivitas jadi tinggi, dan keberpihakan jadi kentara sekali. Sungguh, bibit-bibit masalah keluarga bisa lahir dari soal “ada yang ngganjel” aja.

Saya pernah baca buku, ditulisnya “Masalah ga perlu dicari, nanti juga datang sendiri. Malah bisa jadi masalah yang didiamkan akan hilang sendiri.” Setuju sekali bahwa ada hal-hal yang memang ga bisa diselesaikan secara langsung ataupun bertahap. Membiarkan waktu menyelesaikan masalah juga sebuah solusi. Ditambah jarak malah lebih mantap. Singgungan konflik jauh lebih kecil. Pas ketemu, sudah lupa masalahnya apa. Selesai.

Tapi, kalau membicarakan di belakang tanpa ada perubahan? Apa mau seperti itu terus?

You can’t get the different result with the same process.” atau

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya” (QS Ar-Ra’d 11).

Memelihara ganjelan bukanlah cara hidup yang sehat. Kita harus melatih diri untuk memaafkan dengan CEPAT. Melatih melepas kekecewaan dengan CEPAT. Melatih tawakkal lebih LAMA. Melatih iman bahwa hasil ikhtiar maksimal adalah TAKDIR. Dan melatih keyakinan bahwa IKHLAS menjalani takdir bisa membawa RIDHA ALLAH SWT.

Makanya, dalam hal apapun, penting sekali punya tujuan yang sangat mulia dari awal: Mendapat RIDHA ALLAH SWT. Selaraskan apa-apa yang mau kita kerjakan dengan niat untuk mendapat Ridha Allah SWT. Karena masalah hidup memang bisa mengaburkan niat. Sayang sekali kan, sudah berjalan jauh, tapi lupa tujuan? Semoga Allah senantiasa menuntun jalan kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s