Ilmu dan Ipar

Saya hanya dua bersaudara dengan kakak laku-laki. Hubungan kita sangat dekat sampai kakak saya menikah dengan wanita yang sangat dicintainya. Itu sudah enam tahun yang lalu. Sudah enam tahun hubungan kami tidak akrab seperti dulu. Saya mengerti bahwa sekarang dia bukan lagi mengurusi saya, tapi mengurus istri dan dua anaknya.

Ketika saya menikah saya baru menyadari bahwa fokus laki-laki akan berpindah dari keluarga besarnya ke keluarga kecilnya. Maka, tidak dapat dipungkiri jika ada kecemburuan dan harapan yang digantungkan dari keluarga yang membesarkannya kepada anggota keluarga baru ini.

Ketika kakak saya menikah, saya mengalami perasaan cemburu terhadap ipar saya. Cemburu karena kakak saya tidak lagi bercerita banyak dan tidak pernah mengajak saya jalan-jalan lagi. Tapi, kecemburuan itu cepat hilang karena sadar bahwa ipar saya adalah kakak perempuan saya sendiri juga. Keseruan memiliki kakak perempuan baru saya rasakan. Memang sangat berbeda dengan kakak laki-laki yang suka usil, kakak perempuan lebih sering bercerita hal-hal yang lucu.

Saya percaya kakak dan kakak ipar menyayangi saya. Walaupun terkadang saya dinilai seperti anak kecil di mata mereka, padahal bedanya cuma satu tahun, saya bisa merasakan perhatian dari mereka walaupun kita jarang bertemu.

Layaknya roda berputar, kondisi hubungan antara saya dan ipar juga mengalami masa-masa di atas, dan masa-masa di bawah. Saya sedang mengalaminya dengan kakak ipar. Masalah yang berasal dari “harga diri” menjadi penyebabnya. Masalah bertambah kompleks dengan adanya “mis-komunikasi” yang disebabkan oleh komunikasi melalui WhatsApp. Dan masalah bertambah larut yang menyiksa dengan sifat “sulit memaafkan”.

Sekarang ini saya hanya sangat berharap ilmu agama diterapkan dengan sebaik-baiknya. Bukan ilmu psikologis. Tapi ilmu agama, yaitu bertawakkal. Ciri-ciri orang yang bertawakal adalah memaafkan orang lain dan berbuat baik terhadap orang tersebut.

Saya sendiri berusaha untuk selalu memaafkan kakak ipar saya dengan cepat. Mungkin karena saya banyak dosanya, maka saya perlu diberi ujian dengan cara yang menyakitkan ini, supaya saya lebih sering mendekat ke Allah, minta ampunan. Bertaubat. Konon katanya, jika Allah mengampuni dosa-dosa kita, maka semua urusan akan menjadi lancar. Jadi, kenapa tidak melihat ke dalam saja dan berbaik sangka Allah sedang membimbing kita? Allah juga akan menguji orang-orang yang disayang, dan ujian itu akan disukai jika dihadapi dengan sabar.

Dari pengalaman ini, keimanan terus saya pupuk. Iman membuat saya yakin dalam menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dengan petunjuk Allah. Keimanan ini membuat hidup lebih tenang, dan hati tidak dingin serta keras, melainkan lembut dan hangat. Menyadari bahwa dosa-dosa ini entah seberapa banyaknya, membuat saya terus berusaha memohon ampun dan memaafkan orang lain, karena saya ingin dimaafkan jika saya membuat kesalahan. Saya hanya ingin melakukan yang baik menurut Allah. Iman yang membuat saya bisa lebih mantap dalam berbuat baik walaupun hati saya sendiri masih terkoyak-koyak dan perasaan masih terseok-seok menuju kesembuhan. Bermodal percaya sama Allah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik membuat saya lebih optimis dalam menjalani hidup.

Saya sangat berharap masalah ini bisa segera terselesaikan dengan niat mendapat ridha Allah. Semoga ilmu dan keimanan kita selalu bertambah setiap harinya. Amin YRA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s