Mencari berkah

Beberapa waktu lalu saya posting tulisan mengenai “Pantas Digaji Berapa” yang saya copas dari status teman di Path. Tulisan itu benar-benar mempengaruhi dan mengubah cara pandang dan etos kerja saya (tsah).

Mungkin baru kemarin saya tidak terlalu peduli bahwa apa yang saya kerjakan di jam kerja akan menentukan keberkahan hidup. Sepertinya baru kemarin saya beranggapan memakai jam kantor untuk mengerjakan keperluan pribadi adalah sah-sah saja selama pekerjaan kantor tidak terbengkalai. Rasanya baru kemarin saya memakai fasilitas kantor dengan perasaan puas karena saya tidak perlu membeli apa yang sudah ada di kantor.

Dan sekarang, saya merasa sangat keliru.

Saya keliru berpikiran bahwa jam bekerja juga termasuk jam mengerjakan urusan pribadi. Saya keliru mengira peralatan kantor dapat digunakan sesukanya untuk kepentingan pribadi.

Tapi saya percaya keliru atau tidak keliru itu relatif. Tergantung dari seberapa banyaknya jam bekerja atau alat kantor yang kita gunakan untuk kepentingan pribadi. Selama tidak berlebihan, dan semua pekerjaan tetap selesai, saya pikir itu tidak apa-apa.

Namun, saya sekarang lebih berhati-hati dalam menerima kemudahan fasilitas kantor atau uang yang memang menjadi hak saya. Sehingga saya jadi berpikir panjang ketika menerima uang. Apa betul uang ini pantas saya dapatkan? Apa yang saya kerjakan sehingga saya pantas dibayar segini? Kalau semua bisa terjawab dengan baik, minimal hati lebih plong dalam menerima uang atau fasilitas kantor.

Ketika ada rekan di kantor yang sudah meniatkan untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat (ya, kurang lebih tujuannya sama: untuk kesejahteraan haha), maka ada rekayasa administrasi yang sudah direncanakan. Haduh, dari awal ko caranya sudah begitu? Walaupun tujuannya baik, tapi kalau caranya jelek, apa bisa hasilnya baik? Apa bisa berkah?

Baru tadi saya mengalami (untuk yang kesekian kali) pemikiran semacam itu. Saya tolak mentah-mentah. Takut Allah ga ngasih berkah hanya gara-gara uang ga seberapa.

Ukuran berkah ini memang intangible. Tidak bisa diukur dengan uang sama sekali. Misalnya, suami yang baik, kesehatan, orang tua yang perhatian, teman-teman yang baik, punya sahabat, dll. Semua itu, saya percaya, adalah berkah yang lebih besar daripada tambahan 1 hari uang harian perjalanan dinas yang tidak pernah dilaksanakan.

Semoga kita semua bisa istiqomah mencari berkah Allah, tidak hanya melihat rezeki dari nilai uang, tapi sesuatu yang lebih besar lagi. Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s