Memenangkan kebaikan

Saya ingat dengan jelas bagaimana dokter spesialis syaraf mengatakan kepada Bapak dan saya bahwa kanker Ibu saya sudah menang. Kami dipanggil ke ruangan suster dan beliau mendudukan kami berempat bersama dengan asistennya.

“Kita tidak bisa memaksakan tindakan. Kankernya sudah menang Pak!”

Saya terdiam.

Tidak marah.

Saya hanya melihatnya dengan pandangan heran dan tersenyum setulus mungkin.

Beliau marah kepada kami. Beliau marah karena kami terus berusaha berpikir dan mencari jalan keluar. Beliau marah karena harapan kami tak realistis bagi dunia medis.

Begitu berbedanya dunia kita, Bu Dokter.

Begitu jauhnya harapan kita. 


Bu Dokter,

Ibu Dokter perlu tahu bahwa kanker tidak pernah menang di dalam tubuh Ibu saya. Tidak pernah sedetikpun menang.

Jika pada akhirnya Ibu saya kembali ke pangkuanNya, itu bukan karena kankernya. Itu karena memang sudah waktunya.

Ibu saya memenangkan hati banyak orang, termasuk asisten Ibu Dokter dan seluruh perawat di RS.

Ibu saya memenangkan kehidupan keluarga kami sehingga kami lebih banyak mengingatNya.

Ibu saya memenangkan banyak kebaikan semasa hidupnya.

 

Advertisements

One thought on “Memenangkan kebaikan

  1. sicantik June 1, 2016 / 1:37 am

    so true nad :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s