Sakinah Bersamamu

Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna”.

Oke, dengan semangat mempersiapkan diri untuk berumah tangga, saya merasa sangat perlu selain mempersiapkan gedung, catering, riasan, dll, juga mempersiapkan mental dan memperluas wawasan mengenai seluk-beluk kehidupan berumah tangga. Buku “Sakinah Bersamamu” merupakan buku yang tepat karena buku ini memenuhi harapan saya untuk belajar dari pengalaman rumah tangga orang lain tentang bagaimana seharusnya membangun kehidupan rumah tangga dan menangani ujian dalam rumah tangga secara islami. Semoga akan lebih bijak mengatasi masalah di kemudian hari dalam payung hukum Islam.

Menariknya buku ini adalah pesan-pesan moral yang disampaikan diselipkan dalam 17 cerita pendek dan alur cerita yang ringan. Buku ini merupakan kombinasi antara teori dan contohnya dalam bentuk cerita. Buku ini lebih banyak menitikberatkan pada ujian rumah tangga yang dialami oleh wanita, baik sebagai istri maupun ibu. Penulis mencoba mengangkat persoalan agar banyak orang “ngeh” dengan persoalan yang ada dan memperjuangkan keadilan bagi perempuan.

Sebagian pembahasan dalam buku ini adalah mengenai bagaimana menjembatani perbedaan karakter, bertindak tepat saat cemburu, mengatasi cinta lama bersemi kembali, sebagai ibu sebaiknya bekerja atau di rumah?, 3 alarm menuju selingkuh, menyembuhkan hari yang luka, dan bakti perempuan: antara orang tua, suami, dan mertua. Banyak pelajaran yang saya ambil pembahasan persoalan-persoalan di atas. Contohnya, mengerti akan posisi antara suami dengan ibundanya  dan suami dengan istri, bagaimana memaafkan akan kesalahan besar yang terjadi, mengajarkan kejujuran pada anak, menjaga keseimbangan antara sikap teratur dan perlunya refreshing dengan suami, bagaimana berbusana di depan suami, dan membangun mental dan pola pikir bahwa setiap ikhtiar (walaupun sulit sekalipun) adalah dengan niat ibadah kepada ALLAH SWT. Sungguh buku yang sangat berisi dan mudah diserap. Recommended for all couple who will soon married, already married, already divorce, almost divorce, even for the singles!

Kekurangan dari buku ini menurut saya hanyalah penulisan yang terkadang terlalu detil mendeskripsikan situasi, lokasi, dan ekspresi sang peran. Sehingga saya sering loncat ke bagian percapakan. Mungkin ini style saya dalam membaca saja. Ehehe..

Anyway, happy reading!  :)

Judul Buku         : Sakinah Bersamamu

Penulis                 : Asma Nadia

Penerbit              : AsmaNadia Publishing House

Harga                    : Rp. 49. 500

Tebal                    : 333 halaman
image

Sekilas tentang kawasan perumahan di Enschede, Belanda

Perjalanan menuju kota Enschede dari bandara internasional Schiphol memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Posisi bandara Schiphol yang terletak di Amsterdam, provinsi Noord Holland (Holandia Utara) di Belanda bagian barat, dan Enschede yang berada di Belanda bagian timur, provinsi Overijssel, memang membuat perjalanan seakan-akan membelah negara Belanda dari arah barat ke timur. Sepanjang perjalanan dari bandara international Schipol menuju kota Enschede, dari balik jendela kereta Netherlands Spoorwegen (NS) saya memandangi dengan takjub penataan kota dan lansekap kota-kota di Belanda yang saya lewati.

Pemandangan yang saya lewati meliputi pemandangan pusat kota dengan gedung-gedung perkantoran yang tidak terlalu tinggi dan berdesain arsitektur futuristik, sedangkan bangunan 4-6 lantai dengan bentuk mirip blok-blok besar dan memiliki balkon adalah flat atau apartemen untuk tempat tinggal. Saya pun melewati daerah pedesaan dengan ladang yang sangat luas. Sebagai negara penghasil keju, maka tidak heran jika Belanda mengalokasikan sekitar 70% dari total pemanfaatan lahannya untuk ladang peternakkan sapi, kambing dan domba. Pemandangan lain adalah kawasan pemukiman dengan rumah-rumah mungil yang tertata cantik di sepanjang jalan. Sungai-sungai besar dan kecil menjadi bagian dari elemen natural yang menghiasi Negara Belanda. Hal ini menjadikan kapal sebagai salah satu moda transportasi utama disana. Terlihat kapal-kapal yang berlayar dari negara-negara tetangga melintasi sungai-sungai besar dengan membawa batu bara atau baja. Satu dua kali saya melihat kincir angin, baik yang tradisional maupun modern, berdiri gagah di tengah padang rumput. Pada jaman dahulu, kincir-kincir angin tradisional tersebut digunakan sebagai pompa air laut untuk menjaga daratan dari banjir. Pada saat ini kincir angin tradisional tersebut digunakan sebagai objek wisata, sedangkan kincir angin modern digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga angin.

Enschede

Di Enschede, saya mengambil master studi jurusan Urban Planning and Management (Manajemen dan Perencanaan Kota) di Twente University. Belanda memang terkenal dengan sistem tata kota dan tata airnya. Topografi negara Belanda yang sebagian berada di bawah laut membuat Belanda berinovasi agar ancaman banjir dapat dicegah. Belajar dari pengalaman banjir besar yang terjadi pada tahun 1953, Pemerintah Belanda membuat Proyek Delta (Delta Works/Deltaweken), yaitu pembangunan infrastruktur polder untuk penguatan pertahanan terhadap bencana banjir serta penataan kota yang dirancang untuk menghadapi bencana banjir tersebut.

Enschede merupakan kota kecil dengan luas area 142.75 km² atau hampir setara dengan luas kota Bandung. Dengan total populasi sebesar 157,943 jiwa membuat kota ini terasa lengang dibandingkan dengan Bandung yang memiliki populasi sebesar 644.475 jiwa.

Dari semua bangunan yang saya perhatikan, yang menarik perhatian saya adalah bangunan rumah yang tertata rapih dan seragam. Keseragaman bangunan terlihat pada arsitektur rumah yang khas pada bentuk rumah dan atap, tampilan luar batu bata ekspos, taman mungil di halaman rumah, dan lingkungan yang bersih. Keseragaman bangunan rumah ini tampak pada setiap kota yang saya lewati sepanjang perjalanan, termasuk Enschede.

Pada suatu ekskursi yang saya ikuti mengenai Regional Twente, dosen pengajar menjelaskan bahwa negara Belanda menerapkan satu sistem pembangunan perumahan dimana pembangunan perumahan dilakukan oleh pengembang dan untuk sebagian kawasan, calon pemilik rumah diwajibkan untuk menyewa jasa kontraktor setempat untuk pembangunan rumah.

Seluruh pembangunan dan pekerjaan konstruksi rumah di Belanda harus mengikuti Undang-Undang Perumahan (Housing Act). Di bawah Undang-Undang Perumahan, pemerintah kota akan mengeluarkan Ijin Pembangunan (bouwvergunning), mengawasi pekerjaan konstruksi, dan meninjau aplikasi dari ijin yang telah diberikan. Selain itu, pemerintah kota meninjau dari sisi regulasi zonasi dan juga menyangkut aspek estetika. Rencana zonasi adalah dokumen kunci untuk perencanaan yang mengandung informasi mengenai hak perencanaan dan pembatasan. Hampir seluruh Pemerintah Kota membutuhkan rencana konstruksi untuk meninjau aspek estetika. Peninjauan ini dilakukan oleh sebuah komisi (Welstandscommissie) yang mengontrol penaatan terhadap peraturan terkait tampilan eksternal dari sebuah bangunan. Peraturan ini berada di tingkat kota dan berbeda dari satu kota dengan kota lainnya. Ijin Pembangunan harus didapatkan untuk seluruh pekerjaan konstruksi rumah, termasuk modifikasi, penghancuran bangunan, dan perubahan fungsi bangunan. Standar yang digunakan berlaku secara nasional (Angloinfo, 2013).

Pembelajaran yang bisa dipetik melalui pengamatan ini adalah tingginya tingkat penegakan regulasi, fungsi pengawasan, dan pemberian ijin oleh Pemerintah Kota Enschede. Indonesia, melalui otonomi daerahnya diharapkan daerah dapat menyusun kebijakan untuk mengatur daerahnya secara mandiri khususnya dalam hal penataan ruang, ternyata masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang melibatkan aparat pemerintah daerah. Maka dari itu, diperlukan komitmen oleh seluruh aspek serta peran pengawasan dari masyarakat dalam implementasi regulasi di daerah, dalam hal ini penataan ruang.

Referensi:

Angloinfo (2007). Guide to Building and Planning Permits in the Netherlands. Diakses tanggal 3-5-2013, dari http://southholland.angloinfo.com/information/housing/building-property/

*akan mengupload foto2 setelah menemukan gambar yg pas :D*

*tulisan ini rencananya dimasukan kolom ke majalah JENDELA, terbitan kantor saya yg terbitnya 6 bulan sekali. Kalau kata koordinatornya “sudah bisa terbit saja, sudah syukur”. :)). Dulu majalah ini terbit 3 bulan sekali, jadi 4x setahun, dan saya rutin menulis. Tapi sekarang terjadi pengurangan penerbitan, jadi.. yaa.. :)*