dunia itu

Saya sedang merasa cukup menampilkan ke-eksisan di dunia sosial, baik dari kunjungan ke tempat makan yang lagi hits, makan dan minum yang lagi digandrungi, berada di tempat yang lagi rame-ramenya, mengunjungi destinasi wisata yang “semua orang harus kesana”, beli sesuatu yang “akhirnya gw punya juga”, bersama teman-teman yang cantik dan rupawan, dll. Sudah cukup dengan ekspos diri yang tidak ada juntrungan dan faedahnya.

Rasanya lebih baik menulis blog yang satunya karena disitulah saya bisa berbagi secuil pengalaman dan hidup terasa lebih bermanfaat.

Rasanya lebih baik memposting foto kebersamaan dengan orang-orang yang ada di hati.

Rasanya lebih baik menahan untuk tidak membuat orang lain iri atau parahnya menipu orang lain untuk mendapat sebanyak-banyaknya likes atau membuat orang lain impressed.

Hati ini sedang banyak terusik dengan penderitaan manusia di belahan bumi yang lain, yang berjuang antara hidup dan mati untuk hari esok, yang melawan segala bentuk kedzaliman, yang tidak tahu mau kemana dan tidak punya siapa-siapa tapi harus terus berjalan, berlari, dan bertahan untuk hidup.

Hati ini sedang banyak tidak nyaman dengan banyaknya penderitaan binatang-binatang di seluruh dunia, dan berpikir ternyata kok ada ya manusia kejam yang membiarkan anjing peliharaannya sekarat karena pemiliknya yang TIDAK memberi makan.

Hati ini sedang enggan melihat kepalsuan dunia maya (jika ada yang palsu).

Oh, itu semua yang aku tulis adalah pengalaman aku sewaktu masih eksis-eksisnya. Entah sampai kapan ini berjalan, kita lihat saja. :)

Advertisements

Once in a while

A few days ago I cried again because I was out of town and felt so sick and yet still have to work. I had a fever, sore throat, and headache. All I wanted to do was laying on bed and close my eyes, but someone forced me to join the event because she said it will be a chaos without me and so on. So I did it.

The next morning, on my way home I couldn’t make any talks because I save that talking energy to get home safely. As planned for days, I slept all days for three days and felt energized this morning. Alhamdulillah.

Since I become more aware of my body, I notice that whenever I feel stress, my gastric acid is up to my throat which cause sore throat, to the lungs which cause hard to breathe, and to somewhere-I-don’t-know which cause me cough. I start to know whether it is from virus or from the gastric acid.

——

It’s good to be “sick” once in a while. Hopefully it will make us more aware of our body, our sins, our stress, our secret sadness, and our God.

What I tell you

And again, I tell you to not see others in negative way.

I tell you to hold your words, before you’re finished filtering what will come out from your mouth.

I tell you to remember that some persons do love you unconditionally, so don’t play a game.

I tell you to use your ears (too), not just your mouth.

I tell you to always be grateful, and being grateful means you take care what you have.

I tell you to control your emotion, before you hurt others.

I tell you to be honest, always and forever.

I often cry

I often cry.

I cry at least once in two weeks.

I cry because of the I feel sad, hurt, guilty, and miss my Mom and Dad.

I don’t know why, but I think Allah wants me to keep me close to Him by giving me series of crying episodes.

Crying does soften my heart, train the empathy, and make me feel depend on Allah so much.

Which is good..

InsyaAllah

Yang selanjutnya

Banyak hal yang berubah dan saya ubah untuk mempersiapkan kehadiran keturunan. Masih banyaaaaak sekali yang harus dibenahi. Mulai dari pola makan, pola pikir, dan pola rasa (mind-body-soul). Pola makan harus lebih dijaga dan ditambah sesuai dengan kebutuhan, pola pikir harus dibuat lebih simple, tenang, dan yakin. Pola rasa harus dibuat lebih positif, happy, dan pasrah.

Pertanyaan-pertanyaan seperti

“kapan punya anak? blablabla”

dan dilanjut dengan kalimat-kalimat saran (atau sebenarnya men-judge Idk) tanpa diminta sangatlah mengherankan.

What do you know about me?

Sedangkan ketika saya bertemu orang-orang yang perlu usaha lebih untuk memiliki keturunan, dan rasanya langsung “klik” begitu mereka tahu usia pernikahan saya. Kalimat yang keluar bukan men-judge seperti

“dua-duanya sibuk sih” atau

“emang ditunda?” dll,

tapi kalimat pengharapan dan doa seperti

“ya.. semoga segera dapat ya. Dulu saya juga lama dapatnya. Intinya ada di doa”.

menjadi sangat menenangkan dan menyenangkan :)

Semoga kita semua bisa berbaik hati ya dengan orang lain yang sedang berjuang memiliki keturunan atau berjuang dalam apapun dalam hidupnya tapi tetap positif! Kuncinya ada di tetap positif. For me they are so awesome!

Semangat semuanya. Semangat!

*Bagi yang sedang berjuang tapi kurang positif, either you can kindly advice them or leave them. Both are fine, well at least that’s what I do :p