A woman

Aku tumbuh besar melihat Ibuku mengurus keluarga dan melayani Bapakku. Ibuku adalah Ibu rumah tangga, tidak banyak berteman, lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bapakku. Melayaninya, mengurus keperluannya, keperluan anak-anaknya. Beliau mengerjakan semua urusan dari subuh hingga malam, tanpa meminta bantuan yang terlalu banyak kepada kita semua. Sikap cerianya membuat kita semua menyangka bahwa semua pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang melelahkan. Melihatnya, seperti mudah sekali mengurus rumah sambil memasak sambil memikirkan anak-anaknya, keluarganya, dan lain sebagainya. Memang dulu Ibuku sudah tidak bekerja semenjak aku SMP. Tapi melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang tanpa ada selingan seperti jaman sekarang juga butuh tingkat istiqomah yang lumayan kan?

Dan aku, belum genap 3 tahun menjadi istri, belum berbaby, belum hamil juga, sudah merasa kelelahan bekerja, mengurus rumah, melayani suami. Aku, pulang dari kerja, masih butuh berleyeh-leyeh satu jam sebelum mulai ke dapur. Di dapur aku biasanya menghabiskan waktu satu jam untuk menyiapkan makan malam dan beberes jilid 2, yaitu cuci piring dan bersih-bersih dapur. Setelah itu suami pulang, rasa lelah ini sudah nambah. Kurang cerialah wajah, hanya mampu mendengarkan suami bercerita apapun dan memberikan respon semaksimal mungkin. Lebih malam lagi, beberes rumah jilid 3, yaitu meletakan barang-barang pada tempatnya, dan mengambil cucian kering. Beberes jilid 1 dilakukan pagi hari, cuci piring, cuci baju, menyiapkan sarapan, menyapu, dan membungkus pakaian bersih untuk disetrika di laundry. Hayati tak sanggup menyetrika, Mamah :(

Ternyata oh ternyata syulitnya menjadi wanita tangguh. Apalagi kalau sudah punya anak ya.. Belum lagi musti sabar kalau pasangan berulah aneh-aneh.. Mungkin karena ini balasannya surga dari pintu mana saja. AAMIIIN..

Tapi bagaimana bisa ya Ibuku tetap tertawa di tengah-tengah rasa lelahnya? Bagaimana bisa ya Ibuku tetap bercerita macam-macam setelah selesai mengurus rumah? Bagaimana bisa ya Ibuku tetap terlihat sumringah setiap anaknya datang walaupun pasti Ibuku masak besar dan beberes rumah? Sedangkan akuh setiap merasa lelah, pasti diam. Me-recharge tenaga. Tapi aku setiap ditraktir suami makan enak di luar pasti langsung ceria lagi. Ternyata hati sama perut ini dekat sekali ikatannya..^^

Mungkin Allah lagi ingin mengajariku repotnya jadi Ibu. Jadi aku pun men-set diriku untuk repot di rumah, mengurus macam-macam, memikirkan macam-macam, berbelanja macam-macam (eaa), dan berdoa macam-macam. InsyaALLAH AAMIIN..

about work

There so many bosses and a few leaders.

Bosses who always check your task but never know how to do it.

Bosses who always busy with their own business and don’t care about where this institution going to.

Bosses who only give command and never offer a team work.

Bosses who think they are always right while the others are wrong.

Bosses who pretend don’t read the message but in the other hand we know that they do.

They are bosses who are irresponsible.

I have enough with them as a part who can make decision.

I really have enough.

Episode

It’s the first time I feel I’m not too interested in life. Especially when everything hit me at once.

But God ask to always be patient and never lose hope in Him.

So, here it is.

Me with so crowded head yet so small heart episode.

Enlightment

For several weeks I’ve been dealing with the inner issue: lack of appreciation.

After I pray, God gives me clues:

They aren’t here for you. But you are here for them.

I’m here for something, someone, maybe for some people.

If I feel enough with everything in me, I wouldn’t search for any higher pride of usefulness, kindness, or anything.

I’m more than enough. It’s time to return the goodness God has given to me. 

Every little things matter. Every little things are continous gift. Every little things are proof that God loves me so much.

That little consistent gifts are like my family’s safety, healthy body, a home, friends, car, food to have everytime, and more and more bonuses.

It’s more than enough to be grateful for family’s safety and healthy body in the end of a day.

Once I feel enough then any recognition will no longer needed.

Thank You Allah.. Thank You. 

Hold satisfaction technique

Many times in life we react spontaneaously on the action that is happening to us, or around us. We give comment instantly on some incomplete information we hear, we complain on the task that is given to us without knowing the reason why that is given to us, we underestimate other’s decision because it’s different from us. 

I see it every day. And I’m sick of it. Sometimes I’m sick of them.

*curhat* :)

But, life is fuuuullll of techniques so that we can go with the flow of life smoothly, calmly, and gratefully.

The technique of hold satisfaction.

It’s so effective yet powerful to influence people to understand/do what we tell them. It works like this, everytime you have something important to tell and you expect them to understand, you must hold yourself until the time is right. You must hold your satisfaction to release what’s in your heart and mind. 

Wait until the person you want to talk with, feel relax, happy, calm. After eating is almost always a good time. Because when people feel relax, their brainwave is in around beta wave, which is an ideal condition to influence people.

Make sure you speak efficiently. Don’t talk out of the context. Make it short, clear, and say what you really want. By doing it quickly, it will not give burden the person you talk with and you make the conversation really light. Talk to them by looking at their eyes. Make a gesture so that your body language supports what you’re saying. 

After you finish, say thanks for listening/aggreeing what you want. 
See the result. 

For me, It works for me.. Like everytime. 

Warung sedekah

Brilliant and noble idea!

Indira Abidin's Blog

IMG_1023

Warung Sodaqoh Pekalongan

Beberapa pekan lalu mungkin kita pernah
membaca atau nendengar kisah tentang
Suspended Coffee yang ada di negara Eropa dan Malaysia.
Nah, ternyata ada yang serupa di negara kita. Berikut detailnya. Selamat membaca.

Di negara kita sudah ada warung khusus fakir
miskin dan kaum dhuafa.
Bila anda tidak punya uang untuk makan, silakan
mampir ke warung tersebut. Ajak siapa saja yang butuh makan, tetapi terkendala uang.

Silakan pesan menu apa saja yang Anda mau, dan tersedia di situ. Tak akan dimintai bayaran
sepeserpun.

Misalkan Anda punya uang seribu atau dua ribu dan berniat membayar, silakan masukkan uangnya ke tempat yang disediakan.

Warung ini buka setiap hari mulai jam
06.00-09.00. Lokasinya di alun-alun Kota
Pekalongan. Menu masakannya cukup beragam, ada ayam opor, nasi megono, telur bacem, telur ceplok, sampai daging rendang.

Setiap hari, banyak saudara kita yang berprofesi jadi tukang becak, kuli panggul, pengemis, dan sebagainya makan di situ.

View original post 78 more words